7
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Diskripsi Teori
1. Hakikat Berbicara
a. Definisi Berbicara
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam
kehidupan sehari-hari. Seseorang lebih sering memilih berbicara untuk
berkomunikasi, karena komunikasi lebih efektif jika dilakukan dengan
berbicara. Berbicara memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa ahli bahasa telah mendefinisikan pengertian berbicara, diantaranya
sebagai berikut.
Tarigan (1986: 3) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan
seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata yang
bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,
gagasan dan perasaan orang tersebut.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 144) berbicara adalah suatu
berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat, dengan berbicara
manusia dapat mengungkapkan ide, gagasan, perasaan kepada orang lain
sehingga dapat melahirkan suatu intraksi.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, dapat
disimpulkan bahwa berbicara adalah suatu kemampuan seseorang untuk
bercakap-cakap dengan mengujarkan bunyi-bunyi bahasa untuk menyampaikan
pesan berupa ide, gagasan, maksud atau perasaan untuk melahirkan intraksi
kepada orang lain.
8
b. Metode Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara mempunyai sejumlah komponen yang
pembahasanya diarahkan pada segi metode pengajaran. Guru harus dapat
mengajarkan keterampilan berbicara dengan menarik dan bervariasi. Menurut
Tarigan (1987: 106) ada 4 metode pengajaran berbicara antara lain:
1. Pecakapan
Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai suatu
topik tertentu antara dua atau lebih pembaca. Greene dan Petty dalam Tarigan
(1987: 106). Percakapan selalu terjadi dua proses yakni proses menyimak dan
berbicara secara simultan. Percakapan biasanya dalam suasana akrab dan
peserta merasa dekat satu sama lain dan spontanlitas. Percakapan merupakan
dasar keterampilan berbicara baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.
2. Bertelepon
Menurut Tarigan (1987: 124) telepon sebagai alat komunikasi yang
sudah meluas sekali pemakaianya. Keterampilan menggunakan telepon bisnis,
menyampaikan berita atau pesan. Penggunaan telepon menuntut syarat-syarat
tertentu antara lain: berbicara dengan bahasa yang jelas, singkat dan lugas.
Metode bertelepon dapat digunakan sebagai metode pengajaran berbicara.
Melalui metode bertelepon diharapkan siswa didik berbicara jelas, singkat dan
lugas. Siswa harus dapat menggunakan waktu seefisien mungkin.
3. Wawancara
Menurut Tarigan (1987: 126) wawancara atau interview sering
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya wartawan mewawancarai
9
para menteri, pejabat atau tokoh-tokoh masyarakat mengenai isyu penting.
Wawancara dapat digunakan sebagai metode pengajaran berbicara, pada
hakekatnya wawancara adalah bentuk kelanjutan dari percakapan atau tanya
jawab. Percakapan dan tanya jawab sudah biasa digunakan sebagai metode
pengajaran berbicara.
4. Diskusi
Diskusi sering digunakan sebagai kegiatan dalam kelas. Metode diskusi
sangat berguna bagi siswa dalam melatih dan mengembangkan keterampilan
berbicara dan siswa juga turut memikirkan masalah yang didiskusikan.
Menurut Kim Hoa Nio dalam Tarigan (1987: 128) diskusi ialah proses
pelibatan dua atau lebih individu yang berintraksi secara verbal dan tatap
muka, mengenai tujuan yang sudah tentu melalui cara tukar menukar informasi
untuk memecahkan masalah.
c. Faktor penunjang keefektivan berbicara
Berbicara adalah suatu kegiatan komunikasi antara 2 orang atau lebih
menggunakan bahasa lisan. Menurut Maidar dan Mukti (1993: 18) dalam
berbicara ada beberapa faktor yang menunjang keefektifan berbicara. Faktorfaktor
tersebut antara lain :
1. Faktor kebahasaan
a) Ketepatan ucapan, pengucapan buyi-bunyian harus tepat, begitu juga
dengan penempatan tekanan, durasi, dan nada yang sesuai.
b) Pemilihan kata atau diksi, harus jelas, tepat dan bervariasi sehingga
dapat memancing kepahaman dari pendengar.
c) Ketepatan sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau keefektivan
kalimat memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan.
2. Faktor non kebahasaan
a) Sikap yang tidak kaku.
b) Kesediaan menghargai pendapat.
10
c) Pandangan ke pendengar.
d) Gerak-gerik atau mimik tepat.
e) Kenyaringan suara.
f) Kelancaran berbicara.
g) Penguasaan topik.
d. Penilaian Keterampilan Berbicara
Setiap kegiatan belajar perlu diadakan penilaian, setelah proses belajar
mengajar itu selesai. Penilaian ini dapat diperoleh melalui tes. Tes merupakan
alat yang dapat digunakan untuk mengukur atau mengetahui sejauh mana siswa
mampu mengikuti proses belajar mengajar yang telah berlangsung. Cara yang
dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu berbicara adalah
tes kemampuan keterampilan berbicara. Pada prinsipnya ujian keterampilan
berbicara memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara yang
difokuskan pada praktik berbicara.
Penilaian di dalam keterampilan berbicara ditentukan dari 2 hal, yaitu
faktor kebahasaan dan faktor non kebahasaan (Nurgiyantoro, 1995: 152).
Penilaian dari faktor kebahasaan meliputi: (1) Ucapan, (2) tata bahasa, (3) kosa
kata, sedangkan penilaian dari faktor non kebahasaan meliputi: (1) ketenangan,
(2) volume suara, (3) Kelancaran, (4) pemahaman.
e. Prinsip-prisip Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara perlu memahami beberapa prinsip-prinsip yang
mendasari kegiatan berbicara. Bahasa Jawa itu tidak sulit, tetapi juga tidak
semudah membalik telapak tangan, yang penting adalah kemauan dan
ketekunan. Menurut H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar
berbicara yang efektif berikut ini.
11
1) Gaya hidup (Life style)
Praktek dalam kehidupan sehari-hari, jika siswa ingin belajar berbicara
bahasa Jawa dengan efektif, siswa harus menjadikan bahasa Jawa sebagai
bagian dari kehidupan. Artinya, setiap hari siswa berbicara dengan
menggunakan bahasa Jawa, pada setiap ada kesempatan yang ditemui baik
dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa
juga disebut sebagai bahasa ibu karena bahasa Jawa telah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
2) Kemauan (Total komitmen)
Kemauan untuk menjadikan bahasa Jawa sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Siswa harus memiliki komitmen untuk
melibatkan bahasa Jawa dalam hidup secara fisik, secara mental, dan secara
emosional. Secara fisik, siswa harus bisa mencoba mendengar, membaca dan
menulis. Penggunan berbicara bahasa Jawa terus-menerus dan berulang-ulang,
misalnya dalam memahami bahasa Jawa, jangan kata per- kata, tapi arti secara
keseluruhan. Paling penting adalah keterlibatan secara emosional dengan
bahasa Jawa, yaitu perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar berbicara
bahasa Jawa.
3) Mencoba / berlatih (Triying)
Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika
melakukan kesalahan, yang penting adalah mengetahui kesalahan yang
dilakukan dan memperbaiki dikesempatan yang berikutnya. Siswa tidak usah
malu bertanya dengan menggunakan bahasa Jawa dan tidak usah takut
12
melakukan kesalahan dari pertanyaan yang diajukan, sehingga dengan
kesalahan itu siswa bisa belajar banyak dari kesalahan yang dilakukan dan
berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.
4) Pelajaran dalam kelas (Beyond class)
Belajar bahasa Jawa secara formal (di kelas), biasanya jam-jam belajar
sangat terbatas, karena seminggu hanya satu jam atau dua jam pelajaran, yang
pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Belajar bisa lebih efektif,
harus menciptakan kesempatan untuk belajar juga di luar jam-jam belajar di
kelas (in formal), seperti: berdikusi dengan teman dan berkomunikasi
menggunakan bahasa Jawa dengan teman-teman, dengan percakapan langsung.
5) Strategi
Komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Jawa sebagai
bagian hidup yang telah diterapkan. Langkah selanjutnya adalah menerapkan
strategi belajar yang tepat untuk menujang proses belajar. Strategi ini bisa
dikembangkan dan disesuaikan dengan kepribadiaan dan gaya belajar masingmasing
siswa, misalnya belajar berbicara bahasa Jawa dengan menggunakan
bermain peran dan percakapan. Berbicara bahasa Jawa tersebut mencakup
tentang bertanya, mendengar, memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa
kata siswa dengan gaya belajar.
2. Hakikat Metode Pembelajaran Kontekstual dengan Tehnik Bermain
Peran dan Pemodelan
a. Definisi Pembelajaran Kontekstual
Menurut Knowles dalam Sudjana (2005: 14) metode adalah
pengorganisasian peserta didik di dalam upaya mencapai tujuan.
13
Metode kontekstual atau dikenal dengan istilah metode pembelajaran
kontekstual menurut Mulyasa (2006: 102) merupakan konsep pembelajaran
yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia
kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan
menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Sesuai dengan pendapat Sanjaya (2006: 109) Metode pembelajaran
kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada
proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata, sehingga
mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan. Pengertian tersebut
terdapat tiga konsep metode pembelajaran kontekstual yaitu:
1. Metode pembelajaran kontekstual menekankan pada proses keterlibatan
siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan pada
proses pengalaman secara langsung.
2. Metode pembelajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi
kehidupan nyata. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata, sehingga
materi akan bermakna dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga
tidak mudah terlupakan.
3. Metode pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan artinya, metode pembelajaran
14
kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi
yang dipelajari.
b. Pendekatan Metode Pembelajaran Kontekstual
Sebagai satu konsep pendekatan kontekstual merupakan padanan dan
istilah metode pembelajaran kontekstual sebagai satu konsep yang memiliki
definisi:
Menurut Suprijono (2010: 79) metode pembelajaran kontekstual dapat
didefinisikan sebagai mengajar dan belajar yang membantu guru
menghubungkan mata pelajaran dengan situasi nyata dan yang memotivasi
siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan
sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Menurut Sanjaya, (2006: 225) metode pembelajaran kontekstual
adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkanya dengan setuasi kehidupan nyata, sehingga
mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Kedua pendekatan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa menguatkan,
memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik
mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar
dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang
disimulasikan. Pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan
yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran
15
yang mereka pelajari dengan cara menghubungkanya dengan konteks
kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
c. Strategi Pembelajaran Kontekstual
Strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih dapat
memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Strategi berupa urut-urutan kegiatan yang dipilih untuk
menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan tertentu, yang
mencakup pengaturan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada
peserta didik.
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development
(CORD) dalam Suprijono (2010: 83) penerapan strategi pembelajaran
kontekstual digambarkan sebagai berikut:
1. Relating, merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk
membantu peserta didik agar yang dipelajari bermakna dalam konteks
pengalaman hidup siswa pada peristiwa dan kondisi sehari-hari.
2. Experiencing, belajar adalah kegiatan ”mengalami” peserta didik
berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan
eksplorasi terhadap hal yang dikaji, berusaha menemukan dan
menciptakan hal baru dari apa yang dipelajarinya.
3. Applying, belajar menekankan pada proses mendemotrasikan pengetahuan
yang dimiliki dalam konteks dan pemanfaatanya.
4. Comperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif
melalui belajar berkelompok, komunikasi interpersonal atau hubungan
intersubjektif. Strategi pembelajaran yang utama dalam pengajaran
kontekstual dengan pengalaman bekerjasama tidak hanya membantu
sebagian besar siswa untuk mempelajari bahan ajar.
5. Transferring, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan
memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks.
Pembelajaran kontekstual diawali dengan pengaktifan pengetahuan
yang sudah ada atau yang telah dimiliki peserta didik, sehingga memperoleh
pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan dan
16
memperhatikan secara detail. Metode pembelajaran kontekstual dengan
tehnik pemodelan menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan
siswa dalam belajar lebih bermakna dan menyenangkan. Strategi yang
ditawarkan dalam metode pembelajaran kontekstual ini diharapkan dapat
membantu siswa aktif dan kreatif.
d. Definisi Teknik Bermain Peran
Menurut Tarigan (1987: 122) metode bermain peran sangat baik dalam
mendidik siswa dalam menggunakan ragam-ragam bahasa. Berbicara orang
tua tentu berbeda dengan cara berbicara dengan anak-anak. Fungsi dan perana
seorang menuntut cara berbicara dan berbahasa tertentu. Bermain peran siswa
bertindak, berlaku dan berbahasa sesuai dengan perananya, misalnya sebagai
guru, siswa atau sebagai orang tua, karena setiap tokoh yang diperankan
menurut karakteristik tertentu.
Menurut Sanjaya (2006: 161) bermain peran adalah pembelajaran
sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwaperistiwa
aktual atau kejadian yang mungkin akan muncul pada masa
mendatang.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, dapat
disimpulkan bahwa teknik bermain peran adalah suatu pembelajaran sebagai
bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa-peristiwa
atau kejadian yang mungkin akan muncul pada masa mendatang yang
peranya sangat baik dalam mendidik siswa dalam menggunakan ragam
bahasa Jawa.
17
e. Definisi Teknik Pemodelan
Menurut Sanjaya (2006: 267) pemodelan merupakan proses
pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat
ditiru oleh setiap siswa. Pembelajaran kontekstual, guru bukanlah model satusatunya,
tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memilik
kemampuan. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk menjadi model di hadapan
teman lainnya, misalnya dalam memperagakan unggah-ungguh dengan
bermain peran antara murid dengan guru dan murid dengan murid. Proses
pemodelan tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru
memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.
Menurut Suprijono (2010: 88) pembelajaran kontekstual menekankan
arti penting pendemotrasian terhadap hal yang dipelajari peserta didik.
Pemodelan memusatkan pada arti penting pengetahuan prosedural. Melalui
pemodelan peserta didik dapat meniru terhadap hal yang dimodelkan. Model
bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, seperti berbicara bahasa jawa
dalam lingkungan sekolah, lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan
masyarakat.
Pemodelan merupakan asas yang cukup penting dalam pebelajaran
kontekstual, sebab melalui pemodelan siswa dapat terhindar dari
pembelajaran yang teoritis abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya
verbalisme.
18
B. Penelitian yang Relevan
Salah satu penelitian yang relevan adalah penelitian yang dilakukan Nur
Habibah dengan judul Strategi Guru Meningkatkan Berbicara dalam Pengajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia siswa kelas 3 MAN Yogyakarta dan penelitian yang
dilakukan oleh Endang Setya Handayani dengan judul Pengajaran Keterampilan
Berbicara Siswa Kelas 2 SDN 3 Pakem Sleman menyimpulkan bahwa:
1. Penelitian Nur Habibah dengan judul Strategi Guru Meningkatkan Berbicara
Dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa Kelas 3 MAN
Yogyakarta dengan menggunakan Strategi Bertanya dan Menjawab
Pertanyaan dan penelitian yang dilakukan oleh Endang Setya Handayani
dengan judul Pengajaran Keterampilan Berbicra Siswa Kelas 2 SDN 3 Pakem
Sleman dengan menggunakan Pendekatan Komunikatif. Sementara pada
penelitian ini menggunakan Metode Pembelajaran Kontekstual dengan Teknik
Bermain Peran dan Pemodelan dalam meningkatkan kemampuan berbicara
pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bayat.
2. Beberapa faktor penghambat keterampilan berbicara yang dihadapi guru dalam
proses belajar mengajar di kelas 2 SDN Pakem Sleman dan Kelas 3 MAN I
Yogyakarta antara lain berasal dari guru, siswa, materi pelajaran dan bahan
ajar. Hambatan dari guru meliputi: mood (suasana hati yang tidakmendukung),
guru sakit atau ada tugas di luar sedangkan hambatan dari materi pembelajaran
berkaitan dengan tidak keseimbangan jumlah materi dan alokasi waktu yang
tersedia dan hambatan dari siswa meliputi perbedaan faktor individu siswa
antara lain memotivasi siswa, keberanian siswa dan prestasi siswa.
19
Penelitian yang diungkapkan oleh Endang Setya Handayani (2004: 28)
dan Nur Habibah (2002: 90) ada relenvasi dengan penelitian ini, walaupun
penelitian yang dilaukan oleh Endang Setya Handayani di kelas 2 SDN dan Nur
Habibah kelas 3 MAN, sedangkan penelitian ini dilakukan di SMP. Hal ini dapat
dilihat pada aspek yang diungkapkan yaitu masalah peningkatan keterampilan
berbicara pada siswa.
Namun bila dibandingkan dengan penelitian yang diadakan pada
penelitian ini terdapat perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Endang Setya
Handayani dan penelitian Nur Habibah. Terutama pada pembelajaranya, karena
penelitian ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan teknik
bermain peran dan pemodelan dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada
siswa.
C. Kerangka Berfikir
Keterampilan berbicara bahasa Jawa pada siswa SMP Negeri 2 Bayat
khususnya kelas VIII masih sangat rendah. Rendahnya keterampilan berbicara
bahasa Jawa pada siswa disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya adalah
penggunaan metode pembelajaran yang kurang efektif, karena selama ini siswa
dituntut untuk menghafal bukan memahami setiap materi pembelajaran yang
diberikan guru, sehingga dalam proses pembelajaran bahasa Jawa menimbulkan
kebosanan pada diri siswa. Strategi pembelajaran yang tidak sesuai dengan
karaktristik siswa dapat menyebabkan kejenuhan bagi siswa, sehingga
mengakibatkan kemampuan berbicara bahasa Jawa pada siswa rendah.
20
Metode pembelajaran kontekstual merupakan mengajar dan belajar yang
membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi nyata dan
memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan
kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pembelajaran
kontekstual dengan teknik bermain peran dan pemodelan diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara bahasa Jawa, sehingga mampu
menghubungkan pengetahuan siswa yang diperoleh di kelas dan menerapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan metode pembelajaran kontekstual dengan tehnik bermain
peran dan pemodelan untuk pembelajaran berbicara bahasa Jawa dapat menjadi
salah satu metode yang efektif dan memotivasi siswa untuk aktif dalam
pembelajaran berbicara bahasa Jawa. Siswa akan menjadi terpacu atau termotivasi
dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jawa, karena siswa dapat
memaknai dan mengaplikasikan kemampuan mereka dalam kehidupan seharihari.
Melalui metode pembelajaran kontekstual dengan tehnik bermain peran dan
pemodelan dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jawa pada siswa.
D. Hipotesis
Hipotesis tindakan penelitian ini adalah penggunaan metode pembelajaran
kontekstual dengan teknik bermain peran dan pemodelan dapat meningkatkan
kemampuan berbicara bahasa Jawa pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Bayat
Klaten.
I Pengertian Berbicara
•
Berbicara adalah : Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau
kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,
gagasan, dan perasaan.
• Berbicara adalah : Suatu alat untuk
mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
• Berbicara adalah : Proses individu berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat untuk menyatakan din sebagai anggota masyarakat.
•
Berbicara adalah : Ekspresi kreatif yang dapat memanifestasikan
kepribadiannya yang tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka,
tetapi juga alat utama untuk menciptakan dan memformulasikan ide baru.
•
Berbicara ada!ah : Tingkah laku yang dipelajari di Iingkungan keluarga,
tetangga, dan lingkungan lainnya disekitar tempatnya hidup sebelum
masuk sekolah.
II Unsur Dasar Berbicara
Di dalam kegiatan berbicara terdapat lima unsur yang terlibat yaitu:
a. Pembicara b. Isi pembicaraan
c. Saluran d. Penyimak, dan
e. Tanggapan penyimak
Terdapat pula delapan konsep dasar berbicara,yaitu:
1.
Membutuhkan paling sedikit dua orang, tentu saja pembicaraan dapat
dilakukan oleh satu orang dan hal ini sering terjadi misalnya oleh orang
yang sedang mempelajari banyak bunyi-bunyi bahasa serta maknanya atau
oleh seseorang yang meninjau kembali peryataan bank-nya atau oleh orang
yang memukul ibu jarinya dengan palu.
2. Menggunakan salah satu
sandi linguistic yang dipahami bersama, bahkan andai katapun
dipergunakan dua bahasa namun sating pengertian, pemahaman bersama itu
tidak kurang pentingnya.
3. Menerima atau mengakui satu daerah
referensi umum, daerah referensi yang umum mungkin tidak selalu mudah
kenal, ditentukan, namun pembicara menerima kecenderungan untuk
menentukan satu diantaranya.
4. Merupakan suatu pertukaran antara
partisipan, kedua pihak partisipan yang memberi dan menerima dalam
pembicaraan sating bertukar sebagai pembicara dan penyimak.
5.
Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan Iingkungan dengan
segera. Prilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dengan responsi
yang nyata atau yang diharapkan, dan sang penyimak dan sebaliknya. Jadi
hubungan itu bersifat timbal balik antara dua arah.
6.
Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini. Hanya dengan bantuan berkas
grafik material, bahasan dapat luput dan kekirian kesegaran bahwa pita
atau berkas itu telah mungkin berbuat demikian, tentu saja merupakan
salah satu kenyataan keunggulan budaya manusia.
7. Hanya
melibatkan aparat atau perlengkapan yang dengan suara atau bunyi bahasa
dan pendengar. Walaupun kegiatan-kegiatan dalam pita audio atau lingual
dapat melepaskan gerak visual dan gerak material namun sebaliknya tidak
akan terjadi terkecuali pantornim atau gambar, takan ada pada gerakan
dan grafik itu yang tidak berdasar dan dan bergantung pada audio lingual
dapat berbicara terus menerus dengan orang-orang yang tidak kita lihat,
dirumah, ditempat bekerja dan dengan telpon percakapan percakapan
seperti ini merupakan pembicaraan yang khas dalam bentuknya yang paling
asli.
8. Secara tidak pandang bulu mengharap serta
memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil.
Keseluruhan lingkungan yang dapat dilambangkan oleh pembicaraan
mencangkup bukan hanya dunia nyata yang mengelilingi para pembicara
tetapi juga secara tidak terbatas dunia gagasan yang lebih luas, yang
harus mereka masuki karena mereka dan manusia berbicara sebagai titik
pertemuan kedua wilayah ini tetap memerlukan penelaahan serta uraian
yang lebih lanjut dan mendalam.
III Prosedur Kegiatan Berbicara
a. Memilih pokok pembicaraan yang menarik hati.
b. Membatasi pokok pembicaraan.
c. Mengumpulkan bahan-bahan.
d. Menyusun bahan (pendahuluan, isi, kemampuan